Sholat dan Tiga Kebaikan
>> 26 Mei 2010
Rasulullah bersabda, "Bagi orang yang mengerjakan sholat mendapatkan tiga macam (kebaikan), yaitu: Malaikat menegerumuninya sejak dari telapak kaki sampai ke atas langit,
Resensi Buku Enteng-Metode Cut and Glue
Rasulullah bersabda, "Bagi orang yang mengerjakan sholat mendapatkan tiga macam (kebaikan), yaitu: Malaikat menegerumuninya sejak dari telapak kaki sampai ke atas langit,
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia, serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,

Judul buku: Menjadi Manusia Haji: Panduan Memahami Makna Sosial dan Filsafat Aksi di Balik Ritus-ritus Haji
Judul Asli : The Pilgrimage
Pengarang : Ali Syari’ati
Penerbit : Mujadalah
Tahun terbit : 2003
Jumlah hlmn : 289 hlm
Tampaknya, biar orang-orang ini saja yang memberi pengantar:-)
“Setelah membaca buku ini, saya merasa seperti belum naik haji.” (M. Amien Rais)
“Buku haji ini memang istimewa. Ia menjelaskan seluruh makna rukun demi rukun ibadah haji sejak niat, miqat, tawaf, sai, hingga wukuf di arafah. Bukan hanya itu, ia jug amenjelaskan makna benda-benda seperti ka’bah, hajar aswad, hijir ismail, maqam Ibrahim, Jumarat, Arafat, dan Masyar. Keterangannya mengenai tokoh budak wanita hitam, Hajar, istri nabi Ibrahim, sangat mengharukan... Istri dan mertua saya yang membaca uraian tentang tawaf tidak bisa menahan air mata... Menyentuh hati, padahal ditulis oleh orang yang tidak tepat disebut sebagai ulama, seorang intelektual malah.. (M Dawam Raharjo)
Ya, betul sekali! Oleh karena itu, setidaknya saya membaca buku ini setiap setahun sekali, yaitu saat hari Arafah (9 Dzulhijjah) agar saya bisa memaknai momentum tersebut dengan kedalaman yang khusus. Dan saya selalu meneteskan air mata, mengingat kembali saat-saat saya berada di masjidil haram sana. Sebuah buku yang mengobati kerinduan ke tanah suci. Inilah 20 kutipan dari buku karya sang intelektual kawakan tersebut. Selamat membaca:-)
“Esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia menuju Allah. Haji adalah drama simbolik dari filsafat penciptaan anak cucu Adam.” “Haji adalah perjalanan kehidupan, perjalanan totalitas diri, sebuah perjalanan suci (secret journey).”
“Haji menentang semua bentuk perjuangan yang tak bertujuan.”“Eksistensi manusia tidak berarti dan tak berharga sama sekali kecuali jika tujuan hidupnya adalah senantiasa untuk mendekati ruh Allah.”
"Dalam perpaduan pada haji, nama, ras, dan status sosial tercampakkan. Yang kita rasakan adalah persatuan absolut. Inilah drama kolosal monoteisme yang sedang dipanggungkan manusia.”
“Bahkan dengan pekerjaanmu sendiri, engkau menjadi budak dengan bekerja karena dorongan kebiasaan atau terpaksa! Sekarang tinggalkanlah pola yang demikian. Milikilah “kesadaran” yang sebenar-benarnya mengenai Allah Yang Maha Besar, manusia, dan dirimu sendiri. Ambillah tugas yang baru, arah yang baru, dan keakuan yang baru.”
“Wahai manusia, bayangkanlah dirimu sebagai sebuah partikel besi dalam medan magnet: bayangkanlah engkau seolah-olah berada di antara berjuta-juta burung putih yang sedang bermikraj.” “Engkau akan menyaksikan sebuah gelombang putih sedang berduyun-duyun menuruni bukit menuju masjidil haram. Sebagai salah seorang diantar mereka engkau merasa bahwa dirimu adalah tidak lebih dari setetes air di tengah samudra!”
“Betapa indahnya ka’bah yang kosong ini. Kekosongan ini yang menjadi penunjuk arah untuk gerakan selanjutnya. Ya, ka’bah hanyalah sebuah tonggak penunjuk jalan.” “Inilah gerakan abadi menuju Allah. Bukan menuju Ka’bah.”
“Kabah menghadap ke setiap arah dan tidak menghadap ke arah manapun juga. Walau tak berarah, tetapi dengan menghadap Kabah ketika shalat sesungguhnya engkau menghadap Allah. Mungkin ketiadaan arah ini sulit dipahami, tetapi disana kita bisa merasakan keuniversaltasan dan kemutlakan.”
“Nabi Muhammad berkata, “Muhajir yang ideal adalah yang berbuat seperti Hajar.” “Nama hajar berarti kota, melambangkan peradaban. Selanjutnya, setiap hijrah, seperti yang dilakukannya, adalah sebuah gerakan menuju peradaban.”
“Tawaf adalah gerakan cinta. Gerakan cinta ialah gerakan seekor kupu-kupu. Kupu-kupu yang berputar-putar menghampiri nyala lilin hingga tubuhnya terbakar dan hangus, sedangkan abunya hilang diterbangkan angin, hilang dalam padang cinta, dan mati dalam cahaya.”
“Di maqam Ibrahim, engkau bersilaturahmi dengan Allah dengan begitu akrabnya. Hiduplah seperti Ibrahim dan jadilah arsitek Kabah di negeri dan eramu masing-masing. Membuat negerimu aman sebagaimana yang engkau rasakan sendiri di tanah Haram. Membuat dunia ini sebagai masjid yang damai.”
“Sa’i benar-benar bersifat material, kebutuhan material, tujuan material, dan aksi material.”
“Air tidak ditemukan lewat ikhtiar yang memayahkan, tetapi melalui cinta setelah kita bekerja secara serius dan sungguh-sungguh.”
“Mengunjungi Kabah dalam haji umrah engkau dapat menemukan dirimu sendiri dan setelah itu barulah engkau menemui Allah.”
“Arafat berarti pengetahuan dan sains; Masyar berarti kesadaran dan kepahaman; dan Mina berarti cinta dan keteguhan jiwa.”
“Kemenangan harus terpancar dari wajahmu, bukan dari sesuatu yang terlihat olehmu.” (Andre Gide, filsuf Perancis)
“Wahai gelombang-gelombang, sesungguhnya eksistensi kalian tergantung pada “gerak” kalian dan jika kalian tidak bergerak kalian adalah mati!”
“Engkau adalah penghuni dari empat buah penjara raksasa, yaitu alam, sejarah, masyarakat, dan dirimu sendiri.”
“Engkau berada disini untuk memetik ajar budi bahwa tanpa disertai orang-orang lain , usahamu untuk mencari surga tak beda dengan usaha seorang yang tamak dan itu sangat buruk.”
"Nabi Muhammad bersabda, “Jika pada kehidupan akhir kelak seseorang belum juga mau urun pikiran untuk kesejahteraan masyarakatnya atau bellu mengusahakan hal itu, maka ia bukanlah seorang muslim.” (Pertanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan yang sepanjang masa diajukan manusia: Apa saja yang harus kit alakukan untuk masyarakat?”
“Bahaya paling besar yang dihadapi umat manusia zaman sekarang ini bukanlah ledakan atom, melainkan transformasi sifat asasi manusia.” (Shadel) “Tragedi masa kini adalah “alienasi” manusia yang berarti menjadi tidak bersahabat (unfriendly) dan menjadi tidak acuh (indifferent).”
Oke Semoga bermanfaat. Good job, Ali Syari'ati!
Judul Buku : Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia
Pengarang : A. Syafiii Maarif
Penerbit : Mizan
Tahun terbit : 1993
Jumlah hlmn : 257 hlm
Hai, pecinta buku!
Buku milik ayah saya ini sudah saya baca bertahun-tahun yang lalu saat saya masih mahasiswa baru. Hari ini kebetulan saya ingin membuka-bukanya kembali, dan saya pikir informasi yang terdapat di dalamnya cukup menarik dan informatif untuk dibagi kepada Anda semua. Apalagi tampaknya buku ini sudah tidak beredar lagi. Selamat Membaca! Here are excerpts from the book:
“Islam bila dipahami secara benar dari sumbernya yang otentik, dapat ditawarkan untuk menjadi pilar peradaban alternatif bagi abad yang akan datang dengan syarat kita bersedia menghapuskan daki-daki sejarah yang melekat pada dirinya selama kurun waktu yang panjang dengan menempatkan Al Qur;an sebagai filternya yang paling utama.”
“Bila minyak bumi lenyap dari dunia, mungkin ada gantinya. Tapi bila Islam yang hilang, gantinya tidak akan ada lagi.” (Fazlur rahman)
“Bila dipetakan dalam tipologi kasar, barangkali kita dapat mengkatagorikan intelektual muslim sebagai berikut: Pertama, kelompok modernis dan penerusnya neomodernis muslim, kedua, kelompok neotradisionalis, Ketiga, Kelompok yang serba eksklusif Islam, dan Keempat, golongan modernis sekularis Islam.”
“Jika tiada cinta, dunia akan membeku.” (Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi)
“Cinta adalah akar dari segala kebaikan dan keutamaan hidup manusia.”
“Kebekuan hati mempunyai banyak implikasi: Pertama, Lenyapnya kepekaan terhadap nilai baik dan buruk. Kedua, Hubungan persaudaraan yang semata-mata ditentukan oleh ‘kekuatan’ benda dan kepentingan profan lainnya. Dan ketiga, kerakusan, baik terhadap benda maupun kekuasaan.”
“Cogito ergo sum (saya berfikir, oleh sebab itu saya ada), pemikiran descartes ini telah membawa barat untuk tidak lagi sibuk mengajukan pertanyaan “why” tapi cukup menumpukan perhatian pada masalah ”how”, masalah teknis tentang “bagaimana”
“The Prince (Machiavelli) secara gamblang menolak prinsip moral bila dikaitkan dengan perilaku penguasa. “Seorang penguasa akan hancur bila senantiasa baik; ia harus secerdik fox (serigala) dan seganas singa.”
“Yang merisaukan tokoh-tokoh tentang masalah peradaban modern adalah adanya potensi dehumanisasi. Terjadi keterputusan rantai kemajuan material dan kemajuan moral.”
“Iqbal telah lama bersenandung untuk menciptakan sebuah sintesis antara penalaran (Barat) dengan ‘isyq (cinta) dari Timur.”
“Seorang ulul albab, disamping mampu mengintergrasikan kekuatan dzikr dan fikr (refleksi dan penalaran), juga mampu pula mengembangkan kearifan yang menurut Al Qur’an dinilai sebagai khairan katsiran (QS 2:269).”
“Manusia menurut Al Quran punya otonomi yang luas dalam merekayasa peradaban yang mereka inginkan.”
“..Yang tidak mereka lihat adalah bahwa tahun 2000 mungkin bukan pemenuhan dan puncak bahagia bagi suatu periode dimana manusia berjuang untuk kebebasan dan kebahagiaan, tapi (tahun itu) adalah permulaan satu periode berhentinya manusia sebagai manusia dan telah berubah menjadi sebuah mesin yang tidak berfikir dan tidak punya perasaan.” (Erich Fromm dalam The Revolution of Hope)
“Islam bukan saja pernah menggugat, tapi juga memberi alternatif peradaban yang lebih ramah dan manusiawi.”
“Al Quran dan sunah Nabi adalah filter paling tepat untuk kita pedomani. Oleh karena itu, al ruju’ ila Al Quran wa Al sunah (kembali kepada AL Qur’an dan Sunah) akan tetap relevan sepanjang sejarah, sekalipun bagaimana metodenya mungkin mengalami perkembangan dan perubahan.”
“Dalam rangka menciptakan suatu fondasi kesatuan umat di mana persaudaraan hakiki benar-benar menjadi kenyataan, ada dua hal yang harus ditempuh: Pertama, membersihkan kecenderungan-kecenderungan batin-intelektual kita yang selama ini mungkin didominasi oleh etik golongan, suku, dan ras dengan etik AL Quran yang dipelajari secara jujur dan bertanggung jawab. Kedua, menumbuhkan kesediaan untuk menilai secara kritis seluruh warisan intelektual dan kultural Islam melalui kritik sejarah, dengan ruh Al Quran di otak belakang kita.”
“Di mata Al Quran, tidak satupun kegiatan di wilayah kemanusiaan yang terlepas dari nilai kesalehan sebagai manifestasi dan pancaran iman yang khalish.”
“Umat teladan adalah umat yang berwibawa secara moral dan unggul secara intelektual.”
“Betapa sentralnya posisi ilmu dalam kehidupan manusia, Al Ghazali dalam Ihya, dengan cantik sekali melukiskan, “Sesungguhnya ilmu itu adalah kehidupan hati (yang membebaskan diri) dari kegelapan, kekuatan fisik (yang membebaskan diri) dari kelemahan; dengan ilmu seorang hamba dapat meraih posisi posisi terhormat dan stasion-stasion yang tinggi.”
“Dalam risalah Ikhwan Al Shafa, kita baca sebuah hadis yang berbunyi, “Belajarlah dari dunia dan jangan (hanya) lewat saja di atasnya.”
“Tanda seorang kafir adalah bahwa ia larut dalam cakrawala.
Tanda seorang mukmin ialah bahwa cakrawala larut dalam dirinya.”
Terima kasih Buya...
Judul Buku : Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, dan keserasian Al Qur’an (volume 1)
Pengarang : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera
Tahun terbit : 2000 (cetakan IX 2007)
Jumlah hlmn : 624 hlm
Katanya, jika ingin "ngobrol" dengan Allah, sholatlah. Dan jika ingin obrolan kita dijawab, bacalah Al Qur'an. Dan ternyata bagi saya itu memang benar. Entah berapa kali ayat yang saya baca cocok untuk menjawab permasalahan/hal yang sedang saya pikirkan hari itu. Padahal saya tidak memilih ayatnya, melainkan hanya membaca secara urut setiap hari. Tapi kok kebetulan sering pas yaa.. Kebetulankah atau memang seperti kata pak Quraish, Quran itu bagai intan yang bisa mantul kemana-mana ya? Wow! menakjubkan... Btw, ajaklah quran berbicara dan kita akan menyaksikan keindahannya. Buku ini membantu kita melihat keindahan tersebut. Demikian pula dengan ke 15 jilid buku tafsir ini.
Meskipun saya temukan terkadang Shihab bisa menafsirkan dua hal secara berbeda atau bertolak belakang pada buku yang berbeda, berdasarkan konteks ketika dia menulis. Misalkan mengenai konsep penciptaan laki-laki dan perempuan.
Inilah 20 kutipan dari jilid 1 buku tersebut:.
“Al Qur’an al Karim adalah kitab yang oleh Rasul saw dinyatakan sebagai “Ma’dubatullah” (Hidangan Ilahi)”
“Memang, wahyu pertama memerintahkan membaca iqra bismi rabbika, bahkan kata iqra diulanginya dua kali, tetapi ia juga mengandung makna telitilah, dalamilah, karena dengan penelitian dan pendalaman itu manusia dapat meraih kebahagiaan sebanyak mungkin.”
“Keistimewaan Al Qur’an paling tidak dalam tiga aspek: ketelitian dan keindahan redaksinya, isyarat-isyarat ilmiahnya, dan pemberitaan hal gaib masa lalu dan masa yang akan datang yang diungkapnya.”
“Ambillah sebagai contoh kalimat aqim ash-shalah yang biasa diterjemahkan dengan “dirikanlah sholat”. Terjemahan ini bukan saja keliru, karena kata aqim bukan terambil dari kata qama yang berarti “berdiri” tetapi dari kata qawama yang berarti “melaksanakan sesuatu dengan sempurna serta berkesinambungan.”
“Menyadari sebab kesalahan adalah tangga pertama meraih sukses.”
“Ayat-ayat al Qur’an bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya, dan tidak mustahil jika mempersilahkan orang lain untuk memandangnya, maka ia akan melihat banyak dibandingkan apa yang kita lihat.”
“Keserasian yang amat mengagumkan bagai kalung mutiara yang tidak diketahui mana ujung dan pangkalnya, atau seperti vas bunga yang dihiasi aneka kembang berbeda dan warna-warni tetapi pada akhirnya menghasilkan pemandangan yang indah.”
“Rasulullah saw mendekatkan gambaran besarnya rahmat Tuhan dengan bersabda, “Allah menjadikan rahmat seratus bagian. Dia menyimpan di sisi-Nya 99 bagian, dan diturunkannya ke bumi ini 1 bagian. 1 Bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk. (Begitu meratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya.” (HR Muslim)
“Hamd atau pujian adalah ucapan yang ditujukan kepada yang dipuji atas sikap atau perbuatannya yang baik walau ia tidak memberi sesuatu kepada pemuji.”
“Dia mengajar manusia untuk memuji-Nya dengan kata yang sangat sederhana. Apa yang diajarkan Allah ini sungguh singkat.”
"Seseorang yang menghayati bahwa Allah adalah Ar Rahman. Ia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya, kepada siapa pun dan dimana pun. Kalaupun terdapat perbedaan perolehan cahaya dan kehangatan, maka itu lebih banyak disebabkan oleh posisi penerima bukan pemberi, karena matahari selalu konsisten dalam perjalanannya serta memiliki aturan atau hukum yang tidak berubah.”
"Rasul SAW bersabda, “Allah berfirman, “Aku membagi sholat antara aku dan hamba-Ku separuh-separuh, dan untuk hambaku apa yang dia mohonkan. Maka apabila seorang hamba berkata Alhamdulillah Rabb al ‘alamin, Allah menyambut dengan berfirman,” Aku dipuja hambaku”, dan bila membaca Ar rahman ar rahim Allah berfirman, “Aku dipuji hamba-Ku.” Dan bila dia membaca Malik Yaum ad din Allah berfirman, “Aku diagungkan oleh hambaku.”, dan apabila membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia mohonkan. Dan apabil aia membaca ihdina ash shirath al mustaqim shirath alladzina an’amta ‘alaihim ghair al maghdhubi ‘alaihim wa la adh-dhallin , maka Allah berfirman, “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hambaku apa yang dia mohonkan.” (HR Muslim melalui Abu Hurairah)
“Iyyaka menunjuk pada persona kedua. Ini berarti ayat di atas mengajarkan untuk mengucapkan iyyaka menuntut pembacanya agar menghadirkan Allah dalam benaknya.”
“Tiga unsur pokok hakikat ibadah: 1) si pengabdi tidak menganggap yang berada dalam genggamannya sebagai miliknya. 2) segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi. 3) Tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siap ayang kepadanya dia mengabdi.”
“Kata kami atau kekamian dan kebersamaan yang digunakan dalam ayat adalah untuk: pertama, menggambarkan bahwa ciri khas ajaran islam adalah kebersamaan dan setiap muslim harus punya kesadaran sosial. Kedua, agar ibadah hendaknya dilakukan secara bersama-sama, jangan sendiri-sendiri.”
“Cahaya yang kita lihat sebelum terdengarnya letusan meriam, bukanlah penyebab meletusnya meriam” (David Hume) “Ayam yang selalu berkokok sebelum terbitnya fajar, bukan ia yang menerbitkan fajar itu.” (Ibnu Sina) “Apa yang terjadi, semua diwujudkan oleh suatu kekuatan Yang Maha Dahsyat lagi maha Mengetahui Super Reasoning Power.” (Einstein)
“Bantuan Allah yang didambakan akan datang melalui kerja sama antara manusia” “Allah menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhannya.”
“Tingkat petunjuk: Pertama, penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan. Kedua, Panca Indera. Ketiga, yang meluruskan kesalahan panca indera yaitu Akal”
“Empat tingkatan hidayah (Thahir Ibn Asyur): Pertama, potensi penggerak dan tahu, kedua, dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, ketiga, hidayah yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan aneka argumentasi akliah, dan keempat, puncak hidayah, tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi.”
“Sirathal mustaqim adalah jalan orang-orang yang sukses dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.”
Oke dech. Makasih banyak Pak Quraish Shihab:-)
NB: Kalau ingin memiliki koleksi Tafsir Al Misbah, Informasi dan Layanan Antar Sampai Rumahnya dapat menghubungi 085868666570 / 08179406624 atau via email nur_beti@yahoo.com.
Judul Buku :
Sholat Perdamaian: Risalah Kebebasan Individu dan Keadilan Sosial
Judul Asli : Risalah Ash Shalah
Pengarang : Mahmud Muhammad Thaha
Penerbit : LkiS
Tahun Terbit : 2001
Pernahkah Anda merasa kehilangan makna sholat Anda? Saya pernah dan saya tengah mengalaminya, ketika kesibukan menjadi ibu begitu menyita hati dan konsentrasi. Oleh karena itu, hari ini saya membuka ulang buku ini. Buku yang dulu tertemukan di meja seorang teman 6 tahun yang lalu. Karena halaman-halaman awal cukup membekas, saya membelinya. Kini, saya ingin memaknai kembali dan terus memaknai sholat saya. Dan benar, melalui buku ini, saya kembali menemukannya! Here is the gem of the book:
“Maknai Terus Shalatmu”
“Bertanyalah kepada dirimu: Apakah engkau senantiasa bersama-Nya? Kalau tidak, maka shalatlah! Sebab kamu berarti belum shalat!”
“Shalat itu gerakan. Gerakan dari lupa menuju sadar, dari jauh menjadi dekat, dari bodoh kemudian tahu.”
“Nabi saw bersabda, “Ada tiga urusan dunia kalian ini yang paling aku sukai; perempuan, wewangian, dan ketenangan jiwaku yang terberi di dalam sholat.”
“Shalat hanyalah sebuah metode yang apabila dipraktikkan terus menerus kita akan dapat melihat ke dalam diri, bertemu dengan jiwa kita sendiri, hidup berdampingan dengannya, mengenali, dan mewujudkan perdamaian dengannya.”
“Amal manusia tidak ada yang paling penting, paling sempurna, paling positif, bermanfaat bagi manusia maupun kemanusiaan melebihi aktivitas shalat.”
“Manusia berpindah-pindah dalam maqam-maqam kesempurnaan secara terus menerus.”
“Tauhid menuntut kita memandang semua makhluk bagaikan satu mata rantai yang saling terkait lingkarannya, meskipun ukuran lingkaran-lingkaran tersebut berbeda-beda.”
“Manusia harus mendekatkan sifat-sifatnya dengan sifat-sifat Allah. Hal ini terjadi berkat potensi pencerapan kesadaran akal yang terlatih dengan etos kebenaran (adab al-haq) dan etos kasunyatan (adab al haqiqah).”
“Allah menjadikan manusia sebagai pemisah tempat bertemunya dua kecenderungan. Dengan demikian, ia berada dalam ajang pergulatan yang tidak pernah berhenti antara dorongan jahat dengan dorongan baik. Pertumbuhan inilah yang menjadikannya lebih sempurna dari malaikat.”
“Para sejarawan mengatakan bahwa sejarah itu mengulangi dirinya sendiri, tetapi ia tidak mengulanginya dalam bentuk yang sama.”
“Kondisi terbaik rasa takut adalah apabila diimbangi dengan pengharapan”
“Ilmu kedokteran modern, fisiologi, melakukan kesalahan ketika menganggap hati itu hanya segumpal darah. Yang benar adalah sebagaimana dipegangi agama dan dalam hadist.”
“Hati merupakan rumah Allah. Ia merupakan tempat suci yang aman.”
“Upaya menyelamatkan diri dari rasa takut hanya dimungkinkan melalui ilmu, yaitu dengan mengetahui sesuatu secara nyata, membuka yang tertutup dari kita lantaran tabir-tabir kegaiban, sebab andaikata kita melihat kegaiban, niscaya hilanglah rasa takut.”
“Perdamaian tidak dapat terealisasi tanpa ada peradaban baru. Harus berupa peradaban dengan nilai-nilai internal yang subtil. Peradaban individu yang melalui perantara komunitas dapat mewujudkan kebebasan internalnya.”
“Islam mampu, berkat tauhid, menghilangkan kontradiksi antara kebutuhan individu dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu menyelaraskan dua kebutuhan tersebut dalam satu untaian.”
“Nabi bersabda: Agama itu praksis.”
“Individu yang dapat mewujudkan perdamaian dengan dirinya sendiri adalah orang muslim yang perihalnya nabi bersabda, ”Orang Islam yang sejati adalah orang yang semua muslim selamat dari lisan dan tangannya.”
“Apabila seorang hamba pandai mempergunakan sarana shalat, maka akan membantunya dalam memasuki posisi ridho kepada Allah. Ridho kepada Allah adalah pintu masuk penghambaan.”
Oke, Syukron Pak Mahmud :-)
Buku adalah sesuatu yang bila Anda membacanya
makin banyaklah kekayaan Anda
makin kuat kepribadian Anda
makin luas kekuasaan Anda
makin kokoh raga Anda
makin kaya perbendaharaan kata Anda
makin lapang dada Anda
serta menjanjikan penghargaan dari masyarakat
dan persahabatan para raja
(Abu Amr al Jahizh)
Buku adalah lebah yang membawakan tepung sari dari satu pikiran ke pikiran yang lain (James Russel Lowell)
Buku adalah pembimbing yang paling bijak serta guru yang paling sabar (Charles W. Eliot)
Sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku (Quraish Shihab)
Five years from now, you will be pretty much the same as you are today except for two things: the book you read and the people you get close to (charles Jones)
© Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP